17.11.11

Ronggeng dan Sang Penari

Setelah FTV "Undangan Kuning" ditayangkan SCTV 30 September 2011 yang lalu satu lagi Film yang berlatar belakang budaya Banyumas yaitu Film Sang Penari. Film yang di adaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya maestro banyumas, Ahmad Tohari. Saya sempat membaca satu dari trilogi buku ini yaitu saat duduk di  Sekolah Menengah Pertama, dari situ saya tahu bahwa sang pengarang berasal dari Banyumas, daerah saya dbesarkan.

Dari Sinopsisnya Film Sang Penari menceritakan tentang kisah cinta yang terjadi di desa miskin, Dukuh Paruk di tahun 1960an. Cerita seorang bernama Srintil, seorang penari ronggeng dengan Rasus, teman masa kecilnya. Srintil yang sejak kecil suka menari bahkan oleh para sesepuh di anggap mempunyai "indang" ronggeng dan akhirnya ia memang menjadi penari ronggeng yang terkenal, apalagi dengan kecantikannya. Dengan menjadi ronggeng, ia tidak hanya menari tapi lebih dari itu ia siap melayani orang yang membayar mahal dirinya. Ini yang tidak bisa diterima oleh Rasus dan akhirnya ia pergi dari Dukuh Paruk dan menjadi Tentara Republik Indonesia.

Kehidupan memang terus berputar, setelah jaman keemasan ronggeng Dukuh Paruk akhirnya di cari-cari oleh Tentara karena di anggap "terlibat" dalam Gerakan 30 September dan Rasus sebagai tentara harus memilih loyal kepada negara atau cintanya kepada Srintil. Ketika Rasus berada dalam dilema, ia sudah kehilangan jejak kekasihnya. Pencariannya tidak mudah dan baru membuahkan hasil sepuluh tahun kemudian (filmindonesia.or.id).

Di Banyumas sendiri istilah ronggeng memang tidak banyak digunakan, masyarakat lebih kenal dengan istilah Lengger atau Calung. Lengger, sebuah jenis hiburan rakyat dimana ada calung (gamelan yang terbuat dari bambu) dan ada penarinya. Penari ini menggunakan selendang dimana laki-laki yang nyawer dengan jumlah banyak akan menari bersamanya. Istilah lain selain ronggeng dan lengger adalah calung atau tayub (Jawa Barat), Gandrung (Banyuwangi), Ledhek (yogyakarta). (Nyai Ronggeng, FISIP, UI)

Di jaman dulu lengger atau ronggeng kesannya memang merendahkan perempuan, sebab pada pertunjukan lengger penonton yang "ketiban sampur (selendang)" boleh bertindak lebih dari menari seperti mencium pipi, mencubit pantat, merangkul tubuh bahkan ada yang di bawa ke luar arena pertunjukan. Perbuatan yang asusila inilah yang menggeser makna lengger atau ronggeng menjadi lenge angger atau ronge angger, leng atau rong artinya lubang sedangkan angger artinya anak.(Banyumas : Sejarah, Budaya, Bahasa dan Watak).
Sekarang ini lengger sudah sangat jarang bahkan hilang, walaupun ada hanya untuk pertunjukan budaya saja. Saya sempat menonton ketika masih kecil, tetapi berbeda dengan yang di gambarkan dalam novel atau film ini. Tidak ada mistis, walau masih ada sawer sudah tidak ada rangkul, raba atau perbuatan merendahkan perempuan lainnya. Selain itu sang penari juga bukan idola,  jadi kesenian lengger murni untuk hiburan semata.

Seharusnya Lengger atau Ronggeng tetap ada  seperti halnya kesenian Kuda Kepang atau Jaranan yang masih bertahan di Banyumas. Kemungkinan hilangnya budaya Ronggeng karena masyarakat memandang negatif kepada penari lengger atau kesenian lengger itu sendiri dan juga larangan Islam terhadap kemusyrikan karena kesenian lengger memang dekat dengan mistik.

Itulah budaya yang sebenarnya masih bisa di pertahankan jika memang masyarakat menginginkan, sayangnya budaya popular modern telah memati habis kesenian lengger sebagai identitas keberagaman Indonesia.

Photo :ardnas20.wordpress.com

No comments:

Tulisan Terkait

Tulisan Popular