30.4.10

Transendensi Sang Oemar Bakri

Januari lalu, majalah Rolling Stones menempatkan Iwan Fals sebagai ikon musik terbesar negeri ini. Orisinalitas, kejujuran, dan keberanian Iwan memaknai realitas sosial menjadi alasan sulit terbantahkan, dialah Sang Maestro. Seiring bergulirnya waktu, Iwan pun bermetamorfosis. Konser penutup tur Perjalanan Spiritual Iwan Fals di Banyumas, Rabu (28/4/2010) malam, membuktikan metamorfosis trasendensi Si Oemar Bakri.

Rabu malam itu suasana di Dusun Mangunsari tak seperti biasanya. Dusun di ujung selatan Banyumas yang biasanya senyap saat malam hari itu hiruk pikuk oleh ribuan orang yang berbondong-bondong menuju Pondok Pesantren Al Falah. Selain waga sekitar, banyak yang datang dari daerah lain, seperti Cilacap, Purbalingga, bahkan Ciamis (Jawa Barat).


"Iya kiyeh, padha arep ngaji maring Kyai Iwan Fals," ucap seorang ibu sambil menggendong anaknya yang masih balita.

Ya, malam itu penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listiyanto tersebut akan tampil di Ponpes Al Falah, Dusun Mangunsari, Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas. Ini merupakan konser terakhir tur bertajuk Perjalanan Spiritual Iwan Fals bersama grup seni dakwah Ki Ageng Ganjur pimpinan Ngatawi El Zastrouw di tujuh pesantren di Jateng.

Sebagian dari mereka bersarung, berkopiah, dan berkerudung. Namun, tak sedikit yang berdandan ala anak punk, bercat rambut, dan berbaju u can see. Merekalah Orang Indonesia (OI) sebutan bagi penggemar fanatik Iwan Fals. Atribut-atribut itu tak bermakna malam itu. Semuanya menyatu.

Ketika Iwan dengan gitar akustiknya menyanyikan balada "Yang Terlupakan" sebagai midcore, ribuan penonton sepertinya setuju bahwa cinta itu bermakna luas. Rangkaian koor pun menggema. Hati kecil berbisik untuk kembali padanya/Seribu kata menggoda/Seribu sesal di depan mata/Seperti menjelma/Waktu aku tertawa/Kala memberiMu dosa/Oh, maafkanlah....

Selama bertahun-tahun, Iwan merahasiakan makna di balik lagu ini. Sekilas lagu ini seperti bertutur tentang kisah cinta menye-menye anak muda. Namun, saat Zastrouw memberikan makna bahwa lagu ini bertutur tentang pergulatan batin Sang Maestro atas cintanya kepada Allah, Iwan pun tersenyum mengiyakan. "Cinta itu tak hanya kepada manusia atau benda. Justru tingkatan cinta tertinggi adalah kepada Allah," tutur Zastrouw.

Selain tembang "Yang Terlupakan", Iwan juga menyanyikan lagu-lagu hits-nya pada masa lalu, seperti "Ibu", "Tikus-Tikus Kantor", "Bongkar", "Wakil Rakyat", dan "Tanam Siram Tanam". Iwan pun mencoba merefleksikan pesan-pesan sosial dan rohaniyah kepada penonton.

Memang, Iwan tak secara langsung menyampaikan makna di balik lagu-lagunya itu. El Zastrouw-lah yang bertugas menarik benang merah lagu Iwan dengan nilai-nilai keislaman dan siraman spiritual. Sesekali Iwan menimpali tausiyah Zastrouw.

Dakwah berkombinasi dengan konser musik sebenarnya bukan pertama kali dilakukan Iwan. Saat tergabung dalam grup Kantata Samsara, Iwan kerap menyanyikan tembang-tembang bernuansa keagamaan.

Namun, baginya konser bersama Ki Ageng Ganjur ini memiliki nilai tersendiri. Seusai menunaikan ibadah haji pada November 2009, Iwan merasa terketuk untuk kian mendekatkan diri dengan agama. Kesadaran itu membangkitkan semangatnya menggelar konser yang bernilai dakwah. Dia mulai mencoba mengendapkan diri dan karyanya dengan ketuhanan.

Memang, Iwan tak lagi garang dan meledak-ledak seperti masa jayanya dahulu. Namun, ketenangan, kharisma, dan spiritnya niscaya membuat kita paham mengapa dia tetap diakui sebagai maestro musik terbesar di negeri ini sekarang.

Dan, tembang "Shalawat Nabi" yang dimainkan Iwan sebagai encore pertunjukan malam itu pun menjadi momen orgasmik Sang Maestro beserta ribuan penggemarnya. Sebuah metamorfosis menuju pengembaraan transenden Sang Legenda hidup. (Sumber : Kompas)

No comments:

Tulisan Terkait

Tulisan Popular